Siapa yang tak pernah melakukan perbuatan dosa? Tentu tiap manusia pernah melakukannya. Tetapi sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Sang Pencipta.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Semua anak Adam (manusia) sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. [HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi]
Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertaubat. Dalam firman-Nya disebutkan:
Hai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. [QS. At-Tahrim/66: 8]
Agar taubat menjadi taat
Pertama, melakukan prinsip
(membersihkan noda kemaksiatan sebelum menghias dengan ketaatan)
Artinya langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dosa-dosa yang telah dilakukan, kemudian mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mendorong seseorang untuk melakukan dosa tersebut. Setelah itu, menyusun metode yang tepat dan realistis untuk menghindari dosa tersebut, lalu menggantikan perbuatan dosa dan kemaksiatan dengan ketaatan.
Contoh, misalnya seorang pemuda yang kecanduan melakukan masturbasi dan ingin bertaubat kepada Allah serta memperbaiki dirinya. Maka agar bisa menjauhi kemaksiatan tersebut, ia bisa memulai dengan menerapkan empat tata laksana berikut:
- Definisikan maksiat: Melakukan kebiasaan buruk.
- Penyebab yang memicu maksiat: Adanya waktu luang, kepemilikan ponsel atau laptop, pergaulan bebas, serta faktor-faktor lain yang mendukung kebiasaan buruk tersebut.
- Solusi: Usaha untuk mengisi waktu luang, baik dengan bekerja, belajar, membaca buku atau beraktivitas bersama teman-teman yang saleh. Hindari berada di tempat tertutup dan menyendiri, jangan tidur kecuali jika tubuh sudah lelah, jauhi penggunaan ponsel, letakkan laptop di ruang tamu agar bisa dilihat oleh semua orang. Dengan cara ini, insyaAllah dapat menghindari kebiasaan berbuat maksiat.
- Mengganti kemaksiatan menjadi ketaatan: misalnya berusaha untuk menikah dan berusaha mencari jodoh, jika belum mampu maka berpuasa. Menjaga rutinitas ibadah dalam waktu luang; berdzikir, membaca al-Qur’an, terlibat dalam program dakwah atau sosial masyarakat bersama orang-orang saleh, sehingga hati tidak menjadi kosong.
Kedua, Berusaha untuk menjadi Qudwah atau teladan yang baik, namun perlu dipahami bahwa seorang teladan tidak harus unggul dalam segala hal, dan juga bukan berarti dia tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi seorang teladan itu adalah orang yang unggul dalam suatu hal, berusaha keras, dan berbuat sebisa mungkin, dengan tetap menjaga keimanan dan berpegang pada akhlak baik dan kokoh.
Adapun, menemukan sosok sempurna yang hebat dan komplit dalam segala hal seperti; berakhlak, akademisi, tawadhu’, segudang ilmu, religius, beradab, dll adalah hal yang sangat sulit untuk didapat.
Ketiga, Tidak diragukan lagi, bahwa teladan terbesar dalam hidup kita adalah mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21).
Ibn Hazm berkata:
مَنْ أراد خيرَ الآخرة، وحكمة الدنيا، وعدل السيرة، والاحتواء على محاسن الأخلاق كلها، واستحقاق الفضائل بأسرها، فليقتدِ بمحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم، وليستعمل أخلاقه، وسيره ما أمكنه، أعاننا الله على الاقتداء به بمَنِّه، آمين
“Barang siapa yang menginginkan kebaikan akhirat, kebijaksanaan dunia, baik dalam berperilaku, serta meraup semua keindahan akhlak, dan layak mendapatkan segala kebajikan, maka hendaknya ia meneladani Muhammad Rasulullah ﷺ, dan mengamalkan akhlaknya serta perilakunya semampunya. Semoga Allah membantu kita untuk meneladani beliau, dengan karunia-Nya, amin.” [Rosail Ibn Hazm 1/345]
Sebagai tahapan pemula adalah dengan cara mengenalnya, karena barangsiapa mengenal seseorang, ia akan mencintainya, dan siapa yang mencintainya ia akan meneladaninya, dan siapa yang meneladaninya akan mengikutinya dan menjadikannya pemimpin.
Dalam hal ini, bisa dilakukan dengan memperkaya bacaan yang berkaitan dengan siroh Nabawi. Sehingga akan tumbuh bibit-bibit cinta kepada Nabi, dan timbul kesadaran untuk meneladani dan mengikuti.
Keempat, mencari teman dan sircle yang baik, sebab seseorang menjadi kuat dengan teman-temannya, dan sahabatnya juga akan merasa lemah tanpanya. Jangan mencari teman yang tidak memiliki kesalahan, karena itu hal mustahil, tetapi carilah orang yang kebaikannya lebih banyak dan keburukannya lebih sedikit.
Semoga Allah ﷻ memberikan keistiqamahan dalam ketaatan.