Ada Apa Setelah Ramadhan?

Ramadhan telah beranjak pergi, semoga masih bisa berjumpa lagi. Bayangkan jika anda tak dapat berjumpa kembali, atau itu menjadi Ramadhan terakhir anda.

Apa kabarmu setelah ramadhan berlalu?

Coba bandingkan keadaanmu di bulan Ramadhan dan hari yang saat ini anda berada? Masihkah tersisa kebaikan yang anda pernah lakukan pada bulan itu? Shalatmu di awal waktu, puasamu, tilawahmu, dzikir dan doamu, sedekah dan infakmu?

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa anda lakukan di bulan itu pudar bersama dengan berakhirnya puasa? Atau masihkah tersisa?

 

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari Ramadhan?

Ramadhan telah berlalu, hari-hari yang siangnya kita isi dengan shiyam, dan qiyam pada malam harinya. Apakah sudah terealisasi apa yang menjadi tujuan puasa? yaitu ketakwaan?

Tidakkah kita merenung sejenak tentang ayat yang beberapa hari yang lalu kita dengar maupun kita baca,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al Baqarah: 183]

Ketakwaan yang hendak dicapai, sudahkah melekat pada diri?

Ketakwaan itu senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjauhkan diri dari laranganNya.

 

Jangan menjadi seperti orang yang merobek pintalan kain

Berbahagialah, jika anda adalah seorang yang diberikan kemudahan dalam memanfaatkan kebersamaan dengan bulan Ramadhan, berpuasa, melakukan shalat tarawih, qiyamul lail, membaca al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya. Maka anda adalah orang yang paling berpotensi untuk mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Ta’ala.

Jangan sampai seperti seorang pemintal benang yang diceritakan Allah dalam surat an Nahl ayat 92;

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثٗا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, lalu ia merobeknya kembali menjadi cerai berai kembali.

Jangan sampai ketika Allah berikan kemudahan beribadah dan keistiqamahan, lalu anda menanggalkannya setelahnya, melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa.

Seorang ulama’ tabi’in Bisyr al-Hafi ketika ditanya tentang orang yang hanya semangat beribadah di bulan Ramadhan saja, maka beliau mengatakan,

ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ، إن الصالح الذي يتعبد ويجتهد في السَّنَةِ كُلِّهَا

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Akan tetapi orang yang shalih adalah mereka yang beribadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah disetiap bulan yang ada dalam kehidupannya [Ibn Rojab, Lathaiful Ma’arif, hal 222]

 

Istiqamah dan rajin beribadah sepanjang hayat

Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)” [Ibnu Rajab, Latha-iful ma’aarif, hal. 313]

Istiqamah merupakan pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba.

Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut” [Kitab “Latha-iful ma’aarif”, hal. 311]

Hendaklah beribadah hingga ajal menjemput, sebagaimana firman Allah dalam surat al Hijr: 99,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ٩٩

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).”

Ramadhan dengan sekian banyak ragam ibadah didalamnya memberikan kepada kita beberapa pelajaran, diantaranya;

Kedisiplinan

Mulai dari bangun tidur kemudian sahur, lalu shalat berjama’ah subuh di masjid dan berdzikir hingga syuruq dengan shalat dhuhanya dst.

Berbuka puasa tepat pada waktunya, shalat tarawih dan tilawahnya.

Appreciate the time (menghargai waktu)

Waktu-waktunya senantiasa terisi dengan ibadah dan kebaikan. Setidaknya selepas Ramadhan hal tersebut tetap diistiqamahkan.

Self Controling (Pengendalian diri)

Puasa yang berkelas, adalah puasa yang dilakukan untuk mengharapkan ampunan serta bisa menjadi pengendali seseorang dari perbuatan yang tidak baik. Tidak hanya mengekang dari makan dan minum, syahwat, tetapi dapat menjadi pengendali jiwa agar ia terbimbing wahyu dalam setiap langkah kehidupannya.

Gratitude (Syukur)

Puasa mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Yang Esa, bersyukur karena diberikan kesempatan untuk meraup pahala di bulan yang mulia. Tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah. Dan menggunakannya dalam bentuk ketaatan kepadaNya.

Ibnu Taimiyah berkata,

وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.” (Majmu’ Al Fatawa, 11: 135)

Empati

Pahala memberi makan orang yang berpuasa adalah seperti pahala orang yang berpuasa.

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” [HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192]

Setidaknya Pelajaran dari bulan Ramadhan tetap melekat pada diri kita meski bulan itu telah berlalu dari kita.

 

Wallaahu a’lam

Salatiga, 14 April 2024

Abu Syafiq Fachr as Sanawy

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top