<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>syabaabulquran</title>
	<atom:link href="https://syabaabulquran.com/author/syabaabulquran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://syabaabulquran.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Sep 2023 10:07:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>
	<item>
		<title>Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/apakah-anda-menginginkan-anak-saleh/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/apakah-anda-menginginkan-anak-saleh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Sep 2023 10:07:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[anak sholeh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13077</guid>

					<description><![CDATA[Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ? Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apakah Anda Menginginkan Anak Saleh ?</strong></h2>
<p>Apakah Anda menginginkan anak saleh? Tentu setiap orang akan menjawab iya. Semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi anak yang saleh. Sudah barang tentu untuk mewujudkannya perlu usaha yang harus dilakukan. Berikut penjelasan Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr hafidzahullah mengenai 10 kiat yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)</p>
<p>Ayat ini merupakan dasar penting mengenai wajibnya mendidik anak. Orang tua wajib mewujudkan pendidikan anak, yaitu mengajarkan mereka kebaikan dan menjauhkan dari perbuatan kemaksiatan sehingga tidak terjerumus ke dalam neraka. Perkara ini merupakan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.</p>
<p>Untuk bisa membantu suksesnya proses pendidikan dalam rangka mewujudkan generasi anak saleh -bi’idznillah-, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan:</p>
<p>Pertama: Senantiasa meminta pertolongan Allah dengan doa<br />
Hendaknya orang tua senantiasa meminta pertolongan dengan doa agar Allah memberi hidayah, memberi kebaikan, memberikan bimbingan, serta menjauhkan dari fitnah dan keburukan pada anak-anak mereka, sehingga mereka kelak menjadi keturunan yang saleh. Bahkan, berdoa dimulai sejak sebelum sang anak lahir agar kelak setelah lahir, mereka bisa menjadi anak yang saleh.</p>
<p>Di antara doa yang bisa dipanjatkan adalah yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,</p>
<p>رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَام</p>
<p>“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Furqan :25)</p>
<p>Begitu pula doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,</p>
<p>رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ</p>
<p>“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.“ (QS. Ash-Shaffat: 100)</p>
<p>Demikian pula, doa beliau yang lain,</p>
<p>رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ</p>
<p>“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)</p>
<p>Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab dan tidak tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ</p>
<p>“Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu: (1) doa orang tua, (2) doa orang yang berpuasa, dan (3) doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi, shahih)</p>
<p>Maka, orang tua hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan untuk anaknya. Para orang tua perlu waspada, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anaknya, karena doa orang tua mustajab. Sebagian orang tua karena terlalu emosi terkadang mendoakan kejelekan untuk anak-anaknya. Yang seperti ini harus dihindari karena doa orang tua adalah doa yang mustajab untuk anaknya.</p>
<p>Mari perbanyak doa kebaikan untuk anak kita, karena ini merupakan modal utama untuk mewujudkan keturunan yang saleh.</p>
<p>Kedua: Menjadi teladan yang baik<br />
Orang tua hendaknya semangat untuk menjadi teladan yang baik bagi para anaknya. Berusaha untuk terus memperbaiki diri dengan melaksanakan kewajiban dan perintah agama, menjaga dari perbuatan kemaksiatan, serta berhias diri dengan akhlak mulia. Umumnya anak akan meniru orang tuanya, dia akan melihat dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Sudah merupakan tabiat anak, akan mencontoh orang terdekat yang ada di rumahnya, yaitu kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kedua orang tua harus menjadi teladan yang baik di dalam rumahnya. Yang paling penting, orang tua harus bisa menjadi contoh dalam menjalankan kewajiban agama, melaksanakan ibadah, dan meninggalkan berbagai kemaksiatan.</p>
<p>Baca Juga: Fatwa Ulama: Bagaimana Agar Suami Lebih Perhatian kepada Anak dan Istri?</p>
<p>Ketiga: Membutuhkan kesabaran<br />
Dalam mendidik anak, kita perlu bersungguh-sungguh dan membutuhkan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا</p>
<p>“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (QS. Thaha: 132)</p>
<p>Kesabaran ini dibutuhkan dalam setiap kondisi. Sabar dalam menghadapi perilaku anak yang beragam, yang terkadang melakukan kesalahan. Hendaknya orang tua maklum dan memaafkan kesalahan anak sambil tetap menasihatinya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ</p>
<p>“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf : 199)</p>
<p>Sabar juga dibutuhkan di dalam mendidik, mengarahkan, dan menasihati setiap hari. Jika anak melakukan kebaikan, hendaknya dipuji. Jika melakukan kemungkaran, diperingatkan dan dilarang. Demikian pula, sabar ketika memerintahkan mereka untuk melakukan kewajiban atau menyuruh mereka untuk melakukan ibadah. Semua proses ini membutuhkan kesungguhan dan kesabaran.</p>
<p>Baca Juga: Bagaimanakah Al-Quran Turun kepada Nabi Muhammad?</p>
<p>Keempat: Menyediakan sarana kebaikan<br />
Orang tua hendaknya menyediakan sarana yang bermanfaat bagi anak. Di zaman ini, banyak terdapat wasilah kerusakan, namun banyak juga sarana yang tidak ada sebelumnya yang bisa memberikan manfaat. Sebagaimana terdapat banyak sarana kejelekan, banyak pula sarana menuju kebaikan seperti kaset, video, buku-buku, dll yang mendidik dan bermanfaat. Melalui sarana yang ada, anak bisa menonton dan mendengarkan pengajian atau acara yang bermanfaat.</p>
<p>Kelima: Menjauhkan dari sarana yang merusak<br />
Orang tua harus senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjauhkan anak dari sarana-sarana kejelekan. Di antaranya adalah kejelekan dari dampak internet yang bisa membinasakan dan merusak. Jika terpaksa menggunakan untuk beberapa kondisi tertentu, maka harus dipantau dan diawasi dengan baik. Hal ini karena di dalam dunia maya, banyak terdapat syubhat yang merusak pemikiran dan syahwat yang merusak agama.</p>
<p>Keenam: Memilihkan teman yang baik<br />
Semangat dalam mengarahkannya untuk memilih teman bergaul yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل</p>
<p>“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, shahih)</p>
<p>Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang peran dan dampak teman bergaul dalam sabda beliau,</p>
<p>مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة</p>
<p>“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau Engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalau pun tidak, Engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Teman akan berpengaruh pada seseorang. Maka, penting di sini memilih teman bergaul yang baik untuk membantunya mendapatkan manfaat bagi masalah dunia ataupun akhiratnya. Hati-hati, jangan sampai anak-anak berteman dengan temen jelek yang bisa merusak.</p>
<p>Ketujuh: Ingatlah bahwa mendidik anak adalah kewajiban orang tua yang akan ditanya di akhirat<br />
Ingatlah wahai ayah ibu, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab agama yang akan ditanya dan dihisab oleh Allah. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>
<p>“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,</p>
<p>أدب ابنك فإنك مسئول عنه</p>
<p>“Didiklah anakmu karena Engkau akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.“</p>
<p>Setiap orang tua akan ditanya tentang apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Orang tua akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan untuk mendidik anak-anaknya.</p>
<p>Baca Juga: Bagaimanakah Seharusnya Kaum Muslimin Merayakan Hari Raya?</p>
<p>Kedelapan: Mencontoh generasi saleh terdahulu dalam mendidik anak<br />
Membaca kisah orang saleh terdahulu tentang bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Barangsiapa yang membaca kisah mereka, maka dia akan mendapati metode yang bagus mengenai bagaimana mereka mendidik, mengarahkan, dan menasihati anak untuk senantiasa berada di jalan ketaatan kepada Allah. Hal ini akan membantu kita untuk mendidik anak menjadi generasi saleh. Contoh terbaik tentu adalah para nabi kemudian orang-orang saleh terdahulu.</p>
<p>Kesembilan: Jangan terburu-buru menginginkan hasil baik<br />
Jangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik. Dalam mendidik anak, perlu proses yang panjang dan berulang-ulang. Apabila ada kemungkaran, perlu nasihat berulang-ulang. Terkadang dinasihati sekali, dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Jangan putus asa untuk terus menasihati anak. Hendaknya menasihati dengan sabar, lemah lembut, dan dengan pandangan kasih sayang.</p>
<p>Problem yang banyak terjadi, orang tua menginginkan segala sesuatunya terjadi secara instan. Mereka tidak sabar dalam mengarahkan anak dan bersikap keras serta sering marah kepada mereka ketika anak melakukan kesalahan. Dampaknya justru terkadang anak membuat kesalahan yang lebih besar lagi. Namun, apabila orang tua menasihatinya dengan lemah lembut, bersikap sabar, maka dengan izin Allah akan membuahkan hasil yang baik.</p>
<p>Kesepuluh: Memperhatikan masalah salat<br />
Hendaknya orang tua menaruh perhatian yang besar tentang salat dan benar-benar menjaganya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ</p>
<p>“Perintahkanlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan salat)!“</p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p>وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا</p>
<p>“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ismail ‘alaihis salam,</p>
<p>وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً</p>
<p>“Dan ia menyuruh keluarganya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seseorang yang diridai di sisi Tuhannya.“ (QS. Maryam : 55)</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</p>
<p>“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)</p>
<p>Salat adalah merupakan sebab yang bisa membantu untuk melakukan ketaatan yang lain dan meninggalkan maksiat.</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat. Kita berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam mendidik anak-anak kita dan menjadikan mereka keturunan yang saleh.</p>
<p>Baca Juga:</p>
<p>Anak Terlahir dari Orang Tua Kafir, Apakah Uzurnya Diterima?<br />
Bagaimanakah Petunjuk Islam tentang Mimpi? (Bag. 2)<br />
***</p>
<p>Penulis: Adika Mianoki</p>
<p>Artikel: www.muslim.or.id</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>© 2023 muslim.or.id<br />
Sumber: https://muslim.or.id/76466-apakah-anda-menginginkan-anak-shalih.html</p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/apakah-anda-menginginkan-anak-saleh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa?</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/pendidikan-anak-tanggung-jawab-siapa/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/pendidikan-anak-tanggung-jawab-siapa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Sep 2023 10:04:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13074</guid>

					<description><![CDATA[Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa? Kita yang sudah menjadi orang tua tentu senantiasa berharap, berdo’a dan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang bermanfaat. Namun siapa yang bertanggung jawab menjadikan mereka anak shalih, apakah orang tua? Ataukah sekolah dan para gurunya? Beruntungnya Orang Tua Yang Memiliki Anak Shalih Sungguh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa?</p>
<p>Kita yang sudah menjadi orang tua tentu senantiasa berharap, berdo’a dan berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalih, anak-anak yang bermanfaat. Namun siapa yang bertanggung jawab menjadikan mereka anak shalih, apakah orang tua? Ataukah sekolah dan para gurunya?</p>
<p>Beruntungnya Orang Tua Yang Memiliki Anak Shalih<br />
Sungguh beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).</p>
<p>Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ</p>
<p>“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surge. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).</p>
<p>Oleh karenanya, saking urgennya pembinaan dan pendidikan sang anak sehingga bisa menjadi anak yang shalih, Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab ini kepada kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).</p>
<p>Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,</p>
<p>تأمرهم بطاعة الله وتنهاهم عن معصية الله وأن تقوم عليهم بأمر الله وتأمرهم به وتساعدهم عليه فإذا رأيت لله معصية ردعتهم عنها وزجرتهم عنها</p>
<p>“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).</p>
<p>Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>
<p>“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,</p>
<p>أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك</p>
<p>“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).</p>
<p>Tanggung Jawab Orang Tua<br />
Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua. Para pendidik yang mendidik anak di sekolah–sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.</p>
<p>Orang tua yang berusaha keras mendidik anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada Allah, maka pendidikan yang diberikannya tersebut merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن</p>
<p>“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).</p>
<p>Mengenai tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan yang berharga dari imam Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah. Beliau berkata, “perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya” (Ihya Ulum al-Din 3/72).</p>
<p>Senada dengan ucapan al-Ghazali di atas adalah perkataan al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud hal. 125).</p>
<p>Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih!<br />
“Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai firman Allah ta’ala, “</p>
<p>وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)</p>
<p>“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).</p>
<p>Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun (penyenang hati) dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat? Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia.” Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?” al-Hasan menjawab, “Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang taat kepada Allah dan demi Allah tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, kolega dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfah al Maudud hal. 123).</p>
<p>Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri.</p>
<p>Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,</p>
<p>كيف استقم الظل و عوده أعوج</p>
<p>“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”</p>
<p>Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman,</p>
<p>ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p>“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).</p>
<p>Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.</p>
<p>Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Allah akan menjaga sang anak. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 82,</p>
<p>وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (٨٢)</p>
<p>“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82).</p>
<p>Dalam ayat ini diberitakan bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Allah menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak, bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsirrahimahullah bahwa yang dimaksud ” وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا ” dalam ayat tersebut adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.</p>
<p>Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.</p>
<p>وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)</p>
<p>“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).</p>
<p>Maka disini, Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.</p>
<p>Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,</p>
<p>يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك</p>
<p>“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”</p>
<p>Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,</p>
<p>إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي</p>
<p>“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”</p>
<p>Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
<p>© 2023 muslim.or.id<br />
Sumber: https://muslim.or.id/20835-pendidikan-anak-tanggung-jawab-siapa.html</p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/pendidikan-anak-tanggung-jawab-siapa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengambil Faidah Dari Luqmanul Hakim Tentang Pendidikan Anak</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/mengambil-faidah-dari-luqmanul-hakim-tentang-pendidikan-anak/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/mengambil-faidah-dari-luqmanul-hakim-tentang-pendidikan-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Sep 2023 09:56:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13068</guid>

					<description><![CDATA[Mengambil Faidah Dari Luqmanul Hakim Tentang Pendidikan Anak Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya: وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mengambil Faidah Dari Luqmanul Hakim Tentang Pendidikan Anak</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</p>
<p>Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:</p>
<p>وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (Luqman: 13).</p>
<p>Baca Juga: Sunnah Banyak Anak dan Kewajiban Mendidik Mereka</p>
<p>Jauhilah kesyirikan dalam ibadah kepada Allah, seperti berdoa kepada orang mati atau berdoa kepada orang yang tidak ada di hadapan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p>الدعاء هو العبادة</p>
<p>“Doa adalah ibadah” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hasan shahih”).</p>
<p>Dan juga berdasarkan firman Allah Ta’ala:</p>
<p>الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ</p>
<p>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik)” (Al An’am: 82).</p>
<p>Terkait ayat ini, disebutkan dalam hadits:</p>
<p>قُلْنَا: يا رَسولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لا يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟ قالَ: ليسَ كما تَقُولونَ {لَمْ يَلْبِسُوا إيمَانَهُمْ بظُلْمٍ} [الأنعام: 82] بشِرْكٍ، أَوَلَمْ تَسْمَعُوا إلى قَوْلِ لُقْمَانَ لِابْنِهِ يا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ باللَّهِ إنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim pada dirinya sendiri? Maka Nabi menjelaskan: makna ayat [tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman] tidak sebagaimana yang kalian pahami, namun maksudnya kesyirikan. Bukankah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: “sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman terbesar?”” (Muttafaqun ‘alaih).</p>
<p>***</p>
<p>Nasehat Luqman selanjutnya:</p>
<p>وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ</p>
<p>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Luqman: 14).</p>
<p>Baca Juga: Bolehkah Anak-Anak Main Boneka?</p>
<p>Kemudian Allah gandengkan perintah untuk bertauhid dengan perintah untuk berbakti kepada orang tua, karena besarnya hak kedua orang tua. Seorang ibu mengandung anaknya dengan penuh kesusahan. Seorang ayah menanggung nafkah keluarganya. Maka mereka berdua berhak mendapatkan bakti anaknya, sebagai bentuk syukur kepada Allah dan syukur kepada orang tuanya.</p>
<p>وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p>“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Luqman: 15).</p>
<p>Baca Juga: Tips Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia Dini</p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan yang ringkasnya: “jika kedua orang tua berupaya sepenuh tenaga untuk membuatmu mengikuti agama mereka yang kufur, maka jangan ikuti mereka berdua. Namun hal ini tidak boleh menghalangimu untuk tetap mempergauli mereka dengan ma’ruf di dunia, yaitu dengan baik. Dan tetaplah ikuti jalannya kaum yang beriman”.</p>
<p>Hal ini dikuatkan oleh hadits:</p>
<p>لا طاعةَ لأحد في معصيةِ اللهِ . إنما الطاعةُ في المعروفِ</p>
<p>“tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari 7257, Muslim 1840).</p>
<p>***</p>
<p>Nasehat Luqman selanjutnya:</p>
<p>يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ</p>
<p>“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Luqman: 16).</p>
<p>Baca Juga: Inilah 10 Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan: “sesungguhnya kezaliman dan dosa walaupun sebesar biji sawi, kelak di hari Kiamat akan Allah hadirkan ketika menimbang amalan-amalan. Dan semua itu akan diganjar. Jika amalannya baik, maka ganjarannya baik. Jika amalannya buruk, maka ganjarannya buruk”.</p>
<p>يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ</p>
<p>“Hai anakku, dirikanlah shalat” (Luqman: 17).</p>
<p>Tunaikan shalat sesuai dengan tuntunannya dan rukun-rukunnya, serta pada waktunya.</p>
<p>وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ</p>
<p>“dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” (Luqman: 17).</p>
<p>Lakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lemah lembut sesuai kemampuan.</p>
<p>وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ</p>
<p>“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu” (Luqman: 17).</p>
<p>Baca Juga: Orang Tua Dan Anak Saling Mengangkat Derajat Di Akhirat</p>
<p>Ketahuilah bahwa ketika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, pasti akan mendapatkan gangguan dari orang lain. Maka Allah perintahkan untuk bersabar. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p>المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ</p>
<p>“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).</p>
<p>***</p>
<p>Nasehat Luqman selanjutnya:</p>
<p>إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ</p>
<p>“Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang agung” (Luqman: 17).</p>
<p>Maksudnya, bersabar ketika amar ma’ruf nahi mungkar adalah termasuk perkara yang agung.</p>
<p>وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ</p>
<p>“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)” (Luqman: 18).</p>
<p>Maksudnya, jangan palingkan wajahmu dari orang lain karena meremehkan dan sombong, ketika berbicara dengan mereka. Namun bersikap lembutlah dan pasanglah wajah yang cerah kepada mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p>لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة</p>
<p>“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).</p>
<p>Baca Juga: Bolehkah Memberikan Hadiah Uang Kepada Anak-anak Ketika Lebaran?</p>
<p>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:</p>
<p>تبسمك في وجه أخيك لك صدقة</p>
<p>“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Di-shahih-kan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).</p>
<p>***</p>
<p>Nasehat Luqman selanjutnya:</p>
<p>وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ</p>
<p>“dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman: 18).</p>
<p>Maksudnya, jangan berjalan dengan sombong dan angkuh. Karena itu akan membuat Allah murka. Oleh karena itu Allah berfirman setelahnya :</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.</p>
<p>Maksudnya, orang yang sombong dan bangga pada dirinya sendiri (mukhtal), dan meremehkan orang lain (fakhur).</p>
<p>وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ</p>
<p>“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan” (Luqman: 19).</p>
<p>Maksudnya berjalanlah dengan penuh kesederhanaan, tidak dengan lambat dan juga tidak dengan terlalu cepat. Namun jalan pas dan pertengahan.</p>
<p>***</p>
<p>Nasehat Luqman selanjutnya:</p>
<p>وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ</p>
<p>“dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 19).</p>
<p>Maksudnya janganlah berlebihan dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suara tanpa kebutuhan. Oleh karena itu setelahnya Allah berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.</p>
<p>Mujahid rahimahullah berkata: “suara yang paling buruk adalah suara keledai. Maksudnya orang yang meninggikan suaranya diserupakan seperti keledai karena keledai itu suaranya keras dan melengking. Ini menunjukkan haramnya perbuatan tersebut dan sangat tercela. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</p>
<p>ليس لنا مثل السوء, العائدَ في هبتِه كالكلبِ يعودُ في قَيْئِه</p>
<p>“Tidak ada permisalan orang yang paling buruk, kecuali orang yang meminta kembali apa yang ia berikan, seperti anjing yang menjilat kembali muntahannya” (HR. Bukhari no. 1490, Muslim no. 1620).</p>
<p>إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ، فإنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وإذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا باللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فإنَّه رَأَى شيطَانًا</p>
<p>“Kalau kalian mendengar ayam berteriak (berkokok) maka berdoalah meminta nikmat kepada Allah. Namun jika kalian mendengar suara keledai berteriak (meringkik) maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena keledai tersebut sedang melihat setan” (Muttafaqun ‘alaihi)” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/711).</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Baca Juga:</p>
<p>Tips Melatih Anak untuk Berpuasa<br />
Mencarikan Jodoh Untuk Anak<br />
(Diterjemahkan dari kitab Kaifa Nurabbi Auladana, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penyusun: Yulian Purnama</strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.Or.Id</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>© 2023 muslim.or.id</strong><br />
<strong>Sumber: https://muslim.or.id/46136-mengambil-faidah-dari-luqmanul-hakim-tentang-pendidikan-anak.html</strong></p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/mengambil-faidah-dari-luqmanul-hakim-tentang-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
