<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wisma syabaabulquran</title>
	<atom:link href="https://syabaabulquran.com/author/wisma-syabaabulquran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://syabaabulquran.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Jan 2026 06:01:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>
	<item>
		<title>Tips Bagaimana Melepas Jerat Maksiat?</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/tips-bagaimana-melepas-jerat-maksiat/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/tips-bagaimana-melepas-jerat-maksiat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Aug 2024 00:01:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13157</guid>

					<description><![CDATA[Siapa yang tak pernah melakukan perbuatan dosa? Tentu tiap manusia pernah melakukannya. Tetapi sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Sang Pencipta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ Semua anak Adam (manusia) sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siapa yang tak pernah melakukan perbuatan dosa? Tentu tiap manusia pernah melakukannya. Tetapi sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang mengakui kesalahannya dan bertaubat kepada Sang Pencipta.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ</div>
<p style="text-align: justify;"><em>Semua anak Adam (manusia) sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat.</em> [HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi]</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>Azza wa Jalla</em> juga memerintahkan orang-orang yang beriman agar bertaubat. Dalam firman-Nya disebutkan:</p>
<div style="font-family: 'KFGQPC Uthmanic Script HAFS'; font-size: 25px; text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ</div>
<p style="text-align: justify;"><em>Hai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.</em> [QS. At-Tahrim/66: 8]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<h4 style="text-align: justify;"><strong>Agar taubat menjadi taat</strong></h4>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>, melakukan prinsip</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: center;">التخلية قبل التحلية</div>
<p>(<em>membersihkan noda kemaksiatan sebelum menghias dengan ketaatan</em>)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Artinya langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan <strong>mengidentifikasi dosa-dosa yang telah dilakukan</strong>, kemudian <strong>mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mendorong seseorang untuk melakukan dosa tersebut</strong>. Setelah itu, <strong>menyusun metode yang tepat dan realistis untuk menghindari dosa tersebut</strong>, lalu <strong>menggantikan perbuatan dosa dan kemaksiatan dengan ketaatan</strong>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Contoh, misalnya seorang pemuda yang kecanduan melakukan masturbasi dan ingin bertaubat kepada Allah serta memperbaiki dirinya. Maka agar bisa menjauhi kemaksiatan tersebut, ia bisa memulai dengan menerapkan empat tata laksana berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Definisikan maksiat</strong>: Melakukan kebiasaan buruk.</li>
<li><strong>Penyebab yang memicu maksiat</strong>: Adanya waktu luang, kepemilikan ponsel atau laptop, pergaulan bebas, serta faktor-faktor lain yang mendukung kebiasaan buruk tersebut.</li>
<li><strong>Solusi</strong>: Usaha untuk mengisi waktu luang, baik dengan bekerja, belajar, membaca buku atau beraktivitas bersama teman-teman yang saleh. Hindari berada di tempat tertutup dan menyendiri, jangan tidur kecuali jika tubuh sudah lelah, jauhi penggunaan ponsel, letakkan laptop di ruang tamu agar bisa dilihat oleh semua orang. Dengan cara ini, insyaAllah dapat menghindari kebiasaan berbuat maksiat.</li>
<li><strong>Mengganti kemaksiatan menjadi ketaatan</strong>: misalnya berusaha untuk menikah dan berusaha mencari jodoh, jika belum mampu maka berpuasa. Menjaga rutinitas ibadah dalam waktu luang; berdzikir, membaca al-Qur’an, terlibat dalam program dakwah atau sosial masyarakat bersama orang-orang saleh, sehingga hati tidak menjadi kosong.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>, Berusaha untuk menjadi Qudwah atau teladan yang baik, namun perlu dipahami bahwa seorang teladan tidak harus unggul dalam segala hal, dan juga bukan berarti dia tidak pernah melakukan kesalahan. Tetapi seorang teladan itu adalah orang yang unggul dalam suatu hal, berusaha keras, dan berbuat sebisa mungkin, dengan tetap menjaga keimanan dan berpegang pada akhlak baik dan kokoh.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun, menemukan sosok sempurna yang hebat dan komplit dalam segala hal seperti; berakhlak, akademisi, tawadhu’, segudang ilmu, religius, beradab, dll adalah hal yang sangat sulit untuk didapat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>, Tidak diragukan lagi, bahwa teladan terbesar dalam hidup kita adalah mengikuti Nabi kita Muhammad ﷺ.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<div style="font-family: KFGQPC Uthmanic Script HAFS; font-size: 25px; text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</div>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah&#8221;</em> (Al-Ahzab: 21).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibn Hazm</strong> berkata:</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">
<p>مَنْ أراد خيرَ الآخرة، وحكمة الدنيا، وعدل السيرة، والاحتواء على محاسن الأخلاق كلها، واستحقاق الفضائل بأسرها، فليقتدِ بمحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم، وليستعمل أخلاقه، وسيره ما أمكنه، أعاننا الله على الاقتداء به بمَنِّه، آمين</p>
</div>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Barang siapa yang menginginkan kebaikan akhirat, kebijaksanaan dunia, baik dalam berperilaku, serta meraup semua keindahan akhlak, dan layak mendapatkan segala kebajikan, maka hendaknya ia meneladani Muhammad Rasulullah </em><em>ﷺ</em><em>, dan mengamalkan akhlaknya serta perilakunya semampunya. Semoga Allah membantu kita untuk meneladani beliau, dengan karunia-Nya, amin.&#8221; </em>[Rosail Ibn Hazm 1/345]</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai tahapan pemula adalah dengan cara mengenalnya, karena barangsiapa mengenal seseorang, ia akan mencintainya, dan siapa yang mencintainya ia akan meneladaninya, dan siapa yang meneladaninya akan mengikutinya dan menjadikannya pemimpin.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini, bisa dilakukan dengan memperkaya bacaan yang berkaitan dengan siroh Nabawi. Sehingga akan tumbuh bibit-bibit cinta kepada Nabi, dan timbul kesadaran untuk meneladani dan mengikuti.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keempat</strong></span>, mencari teman dan <em>sircle</em> yang baik, sebab seseorang menjadi kuat dengan teman-temannya, dan sahabatnya juga akan merasa lemah tanpanya. Jangan mencari teman yang tidak memiliki kesalahan, karena itu hal mustahil, tetapi carilah orang yang kebaikannya lebih banyak dan keburukannya lebih sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah ﷻ memberikan keistiqamahan dalam ketaatan.</p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/tips-bagaimana-melepas-jerat-maksiat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dibalik Indahnya Suaramu</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/dibalik-indahnya-suaramu/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/dibalik-indahnya-suaramu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2024 09:59:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13152</guid>

					<description><![CDATA[Diantara sebab retaknya hubungan rumah tangga adalah  tidak direalisasikannya adab-adab islami. Diantara adab islam dalam berbicara dan bertutur kata adalah berbicara seperlunya dan tidak mendayu-dayu dan dibuat-buat sehingga menjadi fitnah bagi lawan jenisnya. Allah ta’ala berfirman: فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا “Maka janganlah kamu menundukkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Diantara sebab retaknya hubungan rumah tangga adalah  tidak direalisasikannya adab-adab islami. Diantara adab islam dalam berbicara dan bertutur kata adalah berbicara seperlunya dan tidak mendayu-dayu dan dibuat-buat sehingga menjadi fitnah bagi lawan jenisnya.</span></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<div style="font-family: KFGQPC Uthmanic Script HAFS; font-size: 25px; text-align: right;">فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا</div>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka janganlah kamu menundukkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” </em>(QS. Al-Ahzab: 32).</p>
<p><strong>Syekh As-Si’di</strong> menjelaskan:</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">في مخاطبة الرجال، أو بحيث يسمعون فَتَلِنَّ في ذلك، وتتكلمن بكلام رقيق يدعو ويطمع</div>
<p style="text-align: justify;"><em>“(Larangan ini) yaitu ketika berbicara dengan lelaki, atau ketika suara wanita tersebut bisa terdengar oleh lelaki. Sang wanita melembut-lembutkan suaranya, atau berbicara dengan intonasi yang indah yang menarik dan membuat ketagihan untuk didengar”</em> (Tafsir As-Sa’di, hal. 663).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">ما تَركتُ بَعدي فِتنَةً أضرَّ على الرجالِ منَ النساءِ</div>
<p style="text-align: justify;"><em>“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita”</em> (HR. Al-Bukhari 5096, Muslim 2740).</p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">وَقَالَ ٱبْنُ ٱلْجَوْزِيِّ رَحِمَهُ ٱللَّهُ: &#8220;قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ) أَي: لَا تَلِنَّ بِٱلْكَلَامِ، فَيَطْمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ، أَي: فُجُور</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu al-Jawzi</strong> <em>rahimahullah</em> berkata: Firman Allah Ta&#8217;ala: (maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara) yaitu: <span style="color: #0000ff;">janganlah kamu berbicara dengan suara yang lembut, sehingga orang yang di dalam hatinya ada penyakit, yaitu keburukan, akan berkeinginan.</span></p>
<div style="font-family: Calibri; font-size: 22px; text-align: right;">وَٱلْمَعْنَى: لَا تَقُلْنَ قَوْلًا يَجِدُ بِهِ مُنَافِقٌ أَوْ فَاجِرٌ، سَبِيلًا إِلَى مُوَافَقَتِكُنَّ لَهُ</div>
<p style="text-align: justify;">Maknanya: <em>Janganlah kamu berkata dengan ucapan yang bisa membuat orang munafik atau fasik menemukan jalan untuk memperoleh persetujuanmu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kata Imam <strong>Ibnu Katsir</strong> <em>Rahimahullah Ta’ala</em> bahwa maksudnya adalah seorang perempuan ketika berbicara dengan laki-laki asing yang bukan mahramnya dengan sebuah pembicaraan, maka pembicaraannya jangan sampai didalamnya ada <em><span style="color: #ff0000;">tarkhim</span>. </em>Tarkhim adalah <span style="color: #0000ff;">pembicaraan yang mana seorang wanita berbicara dengan suaminya penuh dengan kelembutan, penuh dengan kemanjaan, penuh dengan kasih sayang. Maka ini tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya.</span></p>
<p>Semoga kita senantiasa diberikan keistiqamahan dalam agama yang haq ini.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bis showab</em></p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/dibalik-indahnya-suaramu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Setelah Ramadhan?</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/ada-apa-setelah-ramadhan/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/ada-apa-setelah-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2024 11:41:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13144</guid>

					<description><![CDATA[Ramadhan telah beranjak pergi, semoga masih bisa berjumpa lagi. Bayangkan jika anda tak dapat berjumpa kembali, atau itu menjadi Ramadhan terakhir anda. Apa kabarmu setelah ramadhan berlalu? Coba bandingkan keadaanmu di bulan Ramadhan dan hari yang saat ini anda berada? Masihkah tersisa kebaikan yang anda pernah lakukan pada bulan itu? Shalatmu di awal waktu, puasamu, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ramadhan telah beranjak pergi, semoga masih bisa berjumpa lagi. Bayangkan jika anda tak dapat berjumpa kembali, atau itu menjadi Ramadhan terakhir anda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa kabarmu setelah ramadhan berlalu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Coba bandingkan keadaanmu di bulan Ramadhan dan hari yang saat ini anda berada? Masihkah tersisa kebaikan yang anda pernah lakukan pada bulan itu? Shalatmu di awal waktu, puasamu, tilawahmu, dzikir dan doamu, sedekah dan infakmu?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa anda lakukan di bulan itu pudar bersama dengan berakhirnya puasa? Atau masihkah tersisa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari Ramadhan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ramadhan telah berlalu, hari-hari yang siangnya kita isi dengan shiyam, dan qiyam pada malam harinya. Apakah sudah terealisasi apa yang menjadi tujuan puasa? yaitu ketakwaan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tidakkah kita merenung sejenak tentang ayat yang beberapa hari yang lalu kita dengar maupun kita baca,</p>
<div style="font-family: 'KFGQPC Uthmanic Script HAFS'; font-size: 30px; text-align: right;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣</div>
<p style="text-align: justify;"><em>Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em>. [Al Baqarah: 183]</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakwaan yang hendak dicapai, sudahkah melekat pada diri?</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakwaan itu senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjauhkan diri dari laranganNya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan menjadi seperti orang yang merobek pintalan kain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berbahagialah, jika anda adalah seorang yang diberikan kemudahan dalam memanfaatkan kebersamaan dengan bulan Ramadhan, berpuasa, melakukan shalat tarawih, qiyamul lail, membaca al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya. Maka anda adalah orang yang paling berpotensi untuk mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai seperti seorang pemintal benang yang diceritakan Allah dalam surat an Nahl ayat 92;</p>
<div style="font-family: 'KFGQPC Uthmanic Script HAFS'; font-size: 30px; text-align: right;">وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثٗا</div>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat<strong>,</strong> lalu ia merobeknya kembali menjadi cerai berai kembali.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai ketika Allah berikan kemudahan beribadah dan keistiqamahan, lalu anda menanggalkannya setelahnya, melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ulama’ tabi’in Bisyr al-Hafi ketika ditanya tentang orang yang hanya semangat beribadah di bulan Ramadhan saja, maka beliau mengatakan,</p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;">ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ، إن الصالح الذي يتعبد ويجتهد في السَّنَةِ كُلِّهَا</div>
<p style="text-align: justify;"><em>“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.</em> <em>Akan tetapi orang yang shalih adalah mereka yang beribadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah disetiap bulan yang ada dalam kehidupannya</em><em>”</em> [Ibn Rojab<em>, Lathaiful Ma’arif, </em>hal 222]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Istiqamah dan rajin beribadah sepanjang hayat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang <em>Rabbani</em> (hamba Allah <em>Ta’ala</em>  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang <em>Sya’bani</em> (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)” [Ibnu Rajab, <em>Latha-iful ma’aarif</em><em>, hal. 313</em>]</p>
<p style="text-align: justify;">Istiqamah merupakan pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah <em>Ta’ala</em>  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah <em>Ta’ala</em>), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut” [Kitab “<em>Latha-iful ma’aarif</em>”, hal. 311]</p>
<p style="text-align: justify;">Hendaklah beribadah hingga ajal menjemput, sebagaimana firman Allah dalam surat al Hijr: 99,</p>
<div style="font-family: 'KFGQPC Uthmanic Script HAFS'; font-size: 30px; text-align: right;">وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ٩٩</div>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian)</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ramadhan dengan sekian banyak ragam ibadah didalamnya memberikan kepada kita beberapa pelajaran, diantaranya;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedisiplinan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mulai dari bangun tidur kemudian sahur, lalu shalat berjama’ah subuh di masjid dan berdzikir hingga syuruq dengan shalat dhuhanya dst.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbuka puasa tepat pada waktunya, shalat tarawih dan tilawahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Appreciate the time</strong></em> (menghargai waktu)</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu-waktunya senantiasa terisi dengan ibadah dan kebaikan. Setidaknya selepas Ramadhan hal tersebut tetap diistiqamahkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Self Controling </strong></em>(Pengendalian diri)</p>
<p style="text-align: justify;">Puasa yang berkelas, adalah puasa yang dilakukan untuk mengharapkan ampunan serta bisa menjadi pengendali seseorang dari perbuatan yang tidak baik. Tidak hanya mengekang dari makan dan minum, syahwat, tetapi dapat menjadi pengendali jiwa agar ia terbimbing wahyu dalam setiap langkah kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Gratitude</strong></em> (Syukur)</p>
<p style="text-align: justify;">Puasa mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah Yang Esa, bersyukur karena diberikan kesempatan untuk meraup pahala di bulan yang mulia. Tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah. Dan menggunakannya dalam bentuk ketaatan kepadaNya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Taimiyah berkata,</p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;">وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ</div>
<p style="text-align: justify;">“<em>Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan</em>.” (<em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 11: 135)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Empati</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pahala memberi makan orang yang berpuasa adalah seperti pahala orang yang berpuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;">مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</div>
<p style="text-align: justify;">“<em>Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga</em>.” [HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192]</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya Pelajaran dari bulan Ramadhan tetap melekat pada diri kita meski bulan itu telah berlalu dari kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallaahu a&#8217;lam</p>
<p>Salatiga, 14 April 2024</p>
<p><em>Abu Syafiq Fachr as Sanawy</em></p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/ada-apa-setelah-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Shalat Kafarat atau Shalat Bara’ah dapat menghapuskan dosa 1000 tahun?</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/shalat-kafarat-atau-shalat-baraah-dapat-menghapuskan-dosa-1000-tahun/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/shalat-kafarat-atau-shalat-baraah-dapat-menghapuskan-dosa-1000-tahun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Apr 2024 01:13:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hadis]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[qadha]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[salat]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13136</guid>

					<description><![CDATA[Shalat Kafarat atau shalat Bara’ah adalah shalat yang dilakukan seorang pada hari jum’at terakhir di bulan Ramadhan dalam rangka untuk mengqadha atau mengganti shalat fardhu yang telah ia tinggalkan, atau shalat fardhu yang dirasa tidak sah karena shalatnya dilakukan di luar waktunya pada masa lalu. Sebagian orang menyebut hari tersebut dengan sebutan Jum’at Qadha’. Nah, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Shalat <em>Kafarat</em> atau shalat <em>Bara’ah</em> adalah shalat yang dilakukan seorang pada hari jum’at terakhir di bulan Ramadhan dalam rangka untuk mengqadha atau mengganti shalat fardhu yang telah ia tinggalkan, atau shalat fardhu yang dirasa tidak sah karena shalatnya dilakukan di luar waktunya pada masa lalu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sebagian orang menyebut hari tersebut dengan sebutan <em>Jum’at Qadha’</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Nah, <strong>bagaimanakah pandangan agama Islam dalam masalah tersebut?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Imam As Syaukani</strong><em> rahimahullah</em> mengatakan: ada hadis yang menyebutkan:</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ اﻟﺨﻤﺲ اﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﻤﻔﺮﻭﺿﺔ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ ﻭاﻟﻠﻴﻠﺔ ﻗﻀﺖ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﺃﺧﻞ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ ﺳﻨﺘﻪ</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">“Barangsiapa shalat di akhir Ramadlan lima salat fardhu dalam sehari semalam, dapat meng-qadla’ shalat yang ia lalaikan dari salatnya selama setahun”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Namun hadis tersebut adalah hadis palsu sebagaimana penjelasan beliau,</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">هذا موضوع لا إشكال فيه، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة ، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة &#8220;صنعاء&#8221; في عصرنا هذا، وصار كثير منهم يفعلون ذلك! ولا أدري مَن وضعه لهم، فقبَّح الله الكذابين</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ini adalah hadis palsu. Tidak ada kejanggalan di dalamnya. Tidak aku temukan sesikitpun dalam kitab yang menghimpun hadis-hadis palsu. Hal semacam ini masyhur dilakukan oleh orang-orang yang mengaku ahli fikih di kota Sana’a di masa kami ini. Banyak dari mereka yang melakulannya. Aku tidak tahu siapa yang memalsulannya. Semoga Allah memperlakukan buruk pada mereka (al-Fawaid al-Majmu’ah 1/54)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Ibnu Hajar Al- Haitami as Syafi’i</strong> (w.973) ditanya tentang orang yang melaksanakan shalat khusus di hari jum’at terakhir pada bulan ramadhan yang mereka namakan shalat bara’ah, sebagaimana orang-orang Yaman melakukan shalat lima waktu setelah shalat jum’at terakhir ramadhan dengan meyakini bahwa hal tersebut dapat menghapus dosa sejumlah bilangan tahun karena pernah lalai dalam melakukannya, maka beliau menjawab:</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">وَأَقْبَحُ مِنْ ذَلِكَ مَا اُعْتِيدَ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ مِنْ صَلَاةِ الْخَمْسِ فِي هَذِهِ الْجُمُعَةِ عَقِبَ صَلَاتِهَا زَاعِمِينَ أَنَّهَا تُكَفِّرُ صَلَوَاتِ الْعَامِ أَوْ الْعُمْرِ الْمَتْرُوكَةِ وَذَلِكَ حَرَامٌ أَوْ كُفْرٌ لِوُجُوهٍ لَا تَخْفَى</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">“Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa shalat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan shalat jumat, mereka meyakini shalat tersebut dapat melebur dosa shalat-shalat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar.” [Tuhfatul Muhtaj, 2/157]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Beliau juga mengatakan,</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">أن مسألة قضاء خمس صلوات في آخر جمعة من رمضان بدعة لا أصل لها في الدين</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Bahwa masalah mengqadha shalat di akhir jum’at pada bulan Ramadhan adalah perbuatana bid’ah yang tidak ada asalnya dalam agama.( Muhammad bin Ismail al Amroni, mufti Yaman)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Mulla Ali Al Qari</strong> (w.1014) mengatakan,</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">من قضى صلاة الفرائض في آخر جمعة من شهر رمضان كان ذلك جابراً لكل صلاة في عمره إلى سبعين سنة  باطل قطعاً لأنه مناقض للإجماع من العلماء</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Barangsiapa yang mengqadha shalat fardhu di akhir jum’at pada bulan Ramadhan dengan beranggapan bahwa hal tersebut dapat menutupi shalat fardhu selama 70 tahun, maka ini adalah kebatilan yang nyata karena bertentangan dengan Ijma’ Ulama’.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #000000;">Lalu bagaimana seharusnya, jika seseorang lupa, tertidur, atau ada udzur yang lainnya?</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita, sebagaimana dalam hadis,</span></p>
<div style="font-family: 'Traditional Arabic'; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: ﻣﻦ ﻧﺴﻲ ﺻﻼﺓ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺇﺫا ﺫﻛﺮﻫﺎ، ﻻ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻟﻬﺎ ﺇﻻ ﺫﻟﻚ. رواه البخاري</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa lupa melakulan salat, maka salatlah saat mengingatnya. Tidak ada kaffarat (tebusan) kecuali meng-qadla’ tersebut” [HR al-Bukhari]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Demikian pula menamakan hari Jum&#8217;at dengan Jum&#8217;at Qadha&#8217; tidak pernah dijumpai penamaan tersebut dikalangan ulama&#8217; salaf.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Oleh karena itu, sebaiknya kita mencukupkan diri dengan apa yang telah Rasulullah ﷺ tuntunkan kepada kita.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Wallahu a’lam</span></p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/shalat-kafarat-atau-shalat-baraah-dapat-menghapuskan-dosa-1000-tahun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dunia Itu Pendek, Yang Panjang Itu Angan-angan</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/dunia-itu-pendek-yang-panjang-itu-angan-angan/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/dunia-itu-pendek-yang-panjang-itu-angan-angan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2024 09:56:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13123</guid>

					<description><![CDATA[Dalam menapaki kehidupan yang singkat ini, seringkali kita terbuai oleh angan-angan dunia yang fana. Dunia dianggap sebagai tujuan kehidupan. Padahal sebenarnya kita hanya melewati lorong waktu yang sebentar, lalu mempersiapkan diri untuk kehidupan yang panjang setelah kematian. Namun, ironisnya, seringkali kita terjerembab pada angan yang panjang lalu melalaikan beramal untuk akherat. Diantara bentuk akhlak buruk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dalam menapaki kehidupan yang singkat ini, seringkali kita terbuai oleh angan-angan dunia yang fana. Dunia dianggap sebagai tujuan kehidupan. Padahal sebenarnya kita hanya melewati lorong waktu yang sebentar, lalu mempersiapkan diri untuk kehidupan yang panjang setelah kematian. Namun, ironisnya, seringkali kita terjerembab pada angan yang panjang lalu melalaikan beramal untuk akherat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Diantara bentuk akhlak buruk yang dibenci oleh Allah <span>ﷻ </span>adalah panjang angan-angan. Karena panjang angan-angan atau <em>Thuulul amal</em> dapat memalingkan seseorang dari beramal untuk akheratnya. Allah berfirman,</span></p>
<div style="font-family: KFGQPC Uthmanic Script HAFS; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْنَ ٢ ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ ٣</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Orang-orang yang kufur itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).</em> ( Al Hijr: 2-3)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Al-Munawi mendefinisikan bahwa <em>Thulul Amal</em> adalah,</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">الاستمرار في الحرص على الدنيا ومداومة الإنكباب عليها، مع كثرة الإعراض عن الآخرة</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Terus menerus semangat dalam mencari dunia dan mencurahkan segala upaya untuk mendapatkan dunia, serta berpaling dari urusan akherat.</em> (Mausu’ah Nudhrotin Na’im fi Makarimi Akhlakir Rosulil Karim 11/4857)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kebanyakan manusia terbuai angan-angan dan bahkan hingga ajal menjemputnya. Sebagaimana dalam hadis dari Buraidah -Radhiallaahu ‘anhu-,</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطُوطاً فَقَالَ : هَذَا الأمل وَهَذَا أَجَلُهُ . فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَه الخَطُّ الأَقْرَبُ. رَوَاهُ البُخَارِيّ</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dari Buraidah—Radhiyallahu anhu—, ia berkata: “Nabi ﷺ menggaris beberapa garis, lalu bersabda, ‘<em>Ini angan-angan (manusia), dan ini ajalnya. Ketika ia dalam keadaan demikian (mengejar angan-angannya), tiba-tiba datang kepadanya garis yang terdekat (ajalnya)</em>.” (HR. Al-Bukhari hadis no.6418)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ironisnya, manakala manusia mendekati ajalnya di saat itu pula ia memanjangkan angan-angannya, bertambah keinginan untuk mendapatkan dunia dan rakus terhadapnya, kecuali orang-orang yang diberikan rahmat oleh Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi ﷺ<em> </em>bersabda:</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ</span></div>
<p><span style="color: #000000;"><em>“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti jiwa muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan”</em> (HR. al-Bukhari no. 6420).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ibnu hajar berujar, </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ada rahasia yang tersimpan dalam sebuah angan; sebab jika tanpa angan-angan, maka tidak akan ada seorang pun yang hidup senang, dan jiwanya tidak tentram dalam melakukan pekerjaan duniawinya. Sedangkan yang cela adalah sikap tak peduli dan tidak ada persiapan diri untuk menuju kehidupan ukhrawi. Barangsiapa selamat dari hal tersebut, maka tidak ada beban untuk menghilangkannya. (Fathul baari: 11/223)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Orang berakal adalah orang yang tidak tergiur oleh angan-angannya, tidak pula melupakan kenikmatan yang dijanjikan Allah <span>ﷻ </span>kepada setiap jiwa. Allah berfirman,</span></p>
<div style="font-family: KFGQPC Uthmanic Script HAFS; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥</span></div>
<p><span style="color: #000000;"><em>Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.</em>(Ali Imron: 185)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Penyebab Panjang Angan-angan</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah mengatakan,</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">واعلم أنّ السبب في طول الأمل شيئان، أحدهما حُب الدنيا والثاني الجهل</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>“Ketahuilah bahwa sebab seseorang itu panjang angan-angannya ada dua, yaitu cinta dunia dan kebodohan.”</em> (Mukhtashar Minhajil Qashidin: 368)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Akibat panjang angan-angan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Seorang yang memiliki panjang angan-angan lambat laun akan mengeras hatinya, malas dari ketaatan, menunda taubat dan tamak terhadap dunia, lalu lupa terhadap urusan akheratnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan:</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عليكم اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَإنه يَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَإنه يُنْسِي الْآخِرَةَ</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat”</em> (Abu Nu’aim dalam <em>Hilyatul Auliya’</em>, 1/76).</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">إِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً، وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدِ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلٍّ مِنْهُمَا بِنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ.</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>“Sesungguhnya dunia ini telah bergerak pergi dan sesungguhnya akhirat telah bergerak datang, dan masing masing keduanya memiliki pengikut, maka jadilah kalian menjadi para pengikut akhirat, dan jangan kalian menjadi para pengikut dunia, karena hari ini adalah amal tidak ada hisab, sedangkan hari esok adalah hisab dan tidak ada lagi amal”</em> (HR Bukhari)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Solusi Agar tidak mudah panjang angan</strong></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;"><strong>Anggap dunia sekedar lewat saja</strong></span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;">Dari Abdillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merangkul bahuku lalu bersabda: ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang hanya mampir di tengah perjalanannya’. Lalu Ibnu Umar mengatakan: ‘jika engkau ada di sore hari, maka jangan menunggu hingga pagi, jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, manfaatkan waktu hidupmu sebelum matimu’”</em> (HR. al-Bukhari no. 6416).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Ibnu Rajab berujar, hadits ini merupakan dasar dalam memutus angan-angan, dimana tidak sepantasnya seorang mukmin menjadikan dunia tempat tinggal, tetapi hendaknya menjadikan keadaannya seperti seorang yang sedang dalam perjalanan dan bersiap kembali melanjutkan rihlahnya untuk mencapai tujuan. (<em>Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/377</em>)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Al Hasan menceritakan ketika Salman Al Farisi mendekati kematiannya beliau menangis dan berkata: “ Sesungguhnya Rasulullah meninggalkan pesan kepada kami agar menjadikan bekal dunia kami seperti bekalnya seorang yang safar”. Lalu beliau memperlihatkan apa yang ditinggalkan beliau sebesar beberapa puluh dirham. (Musnad Imam Ahmad: 5/438)</span></p>
<ol start="2">
<li><span style="color: #000000;"><strong>Menjadikan hari-harinya selalu memberikan manfaat</strong></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Orang yang cerdas selalu memanfaatkan hari demi harinya, bisa jadi waktu yang tersisa hanya sebentar saja.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ibnul Qoyyim mengingatkan,</span></p>
<div style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 30px; text-align: right;"><span style="color: #000000;">مَا مَضَى مِنَ الدُّنْيَا أَحْلَام، وَمَا بَقِيَ مِنْهَا أَمَانِي، وَالوَقْتُ ضَائِعٌ بَيْنَهُمَا</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">“<em>Apa yang telah berlalu dari dunia adalah mimpi, dan apa yang tersisa adalah harapan, dan waktu lenyap di antara keduanya</em>” (Nudhratun Na’im, 10/4865)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #000000;">Wallahu a’lam</span></p>
<p>Fachruddin Khusna As Sanawy</p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/dunia-itu-pendek-yang-panjang-itu-angan-angan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antara Ilmu dan Adab</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/antara-ilmu-dan-adab/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/antara-ilmu-dan-adab/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2023 10:21:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13117</guid>

					<description><![CDATA[Jikalau ilmu itu dapat membuat seorang menjadi kokoh, maka demikian pula adab akan menghias pribadi seseorang dalam tiap tingkah lakunya. Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu ketika menjelaskan ayat ke 6 dari surat at-Tahrim, يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka… (at-Tahrim:6) beliau mengatakan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jikalau ilmu itu dapat membuat seorang menjadi kokoh, maka demikian pula adab akan menghias pribadi seseorang dalam tiap tingkah lakunya.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu ketika menjelaskan ayat ke 6 dari surat at-Tahrim,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارً</span>ا</h2>
<p><em>wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka</em>… (at-Tahrim:6)</p>
<p>beliau mengatakan bahwa cara menjaga keluarga dari api neraka adalah dengan menjaga mereka dari api neraka,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ</span></h2>
<p><em>Ajarkan kepada mereka adab dan ilmu</em> (Tafsir al-Qur’an al’adhim, 8/167)</p>
<p>Para ulama’ salaf sangat perhatian terhadap kedua perkara ini. Diantaranya Imam malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda:</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">تَعَلَّمِ اْلأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ اْلعِلْمَ</span></h2>
<p><em>Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu</em></p>
<p>Abu Abdillah al Balkhi rahimahullah berujar,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">أَدَبُ اْلعِلْمِ أَكْثَرُ مِنَ اْلعِلْمِ</span></h2>
<p><em>Adab ilmu lebih banyak dibanding ilmu itu sendiri</em></p>
<p>Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu berkata,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">اُطْلُبِ اْلأَدَبَ فَإِنَّهُ زِيَادَةٌ فِي اْلعَقْلِ وَدَلِيْلٌ عَلَى اْلمُرُوءَةِ مُؤْنِسٌ فِي اْلوَحْدَةِ وَصَاحِبٌ فِي اْلغُرْبَةِ وَمَالٌ عِنْدَ اْلقِلَّةِ</span></h2>
<p><em>Carilah adab, karena itu merupakan tambahan bagi akal, petunjuk bagi keluhuran budi, keramahan dalam kesepian, kawan dalam keterasingan, dan harta pada saat sedikit kekayaan</em>. (Ghidza’ al Al-bab Syarh mandhumah al-Adab, hal. 27)</p>
<p>Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">لاَ يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنَ اْلعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عِلْمَهُ بِالْأَدَبِ</span></h2>
<p><em>seseorang tidaklah mulia dengan beragam ilmu selama ia tidak menghiasnya dengan adab</em></p>
<p>Abu Zakariya al-Anbari rahimahullah berujar,</p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="font-weight: 500;">عِلْمٌ بِلَا أَدَبٍ كَنَارٍ بِلَا حَطَبٍ وَأَدَبٌ بِلَا عِلْمٍ كَرُوْحٍ بِلَا جِسْمٍ</span></h2>
<p><em>Ilmu tanpa adab sama seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu sama seperti ruh tanpa jasad</em>. (al-Jami’ li akhlaq ar-Rawy, no. 12)</p>
<p>Mempelajari beragam adab sangat penting dalm kehidupan manusia, bahkan para salafus shalih lebih mendahulukannya daripada ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa posisi adab itu menjadi bagian yang besar dalam poeai perhatian dari para ulama’. Namun sangat disayangkan pada akhir zaman ini, justeru porsi adab semakin merosot. Maka tidak heran jika kita banyak mendapati tidak sedikit manusia yang mengalami kekeringan adab dan lemahnya spiritual meski merasa telah banyak ilmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bekasi, 24 Muharram 1443 H</p>
<p>Khusna Fachruddin</p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/antara-ilmu-dan-adab/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim</title>
		<link>https://syabaabulquran.com/nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim/</link>
					<comments>https://syabaabulquran.com/nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[wisma syabaabulquran]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Oct 2023 22:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[jam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://syabaabulquran.com/?p=13106</guid>

					<description><![CDATA[Jika orang-orang barat mengatakan bahwa ‘Time is Money’ atau ‘Waktu adalah Uang’, maka bagi seorang muslim, waktu lebih mulia dan lebih berharga dari itu. Bagi seorang muslim “waktu adalah pahala”, waktu adalah rezeki yang Allah limpahkan kepada kita, waktu adalah kesempatan yang Allah berikan kepada seorang hamba untuk membekali dirinya dengan ketaatan. Dan seorang hamba [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika orang-orang barat mengatakan bahwa ‘<em>Time is Money</em>’ atau ‘Waktu adalah Uang’, maka bagi seorang muslim, waktu lebih mulia dan lebih berharga dari itu. Bagi seorang muslim “waktu adalah pahala”, waktu adalah rezeki yang Allah limpahkan kepada kita, waktu adalah kesempatan yang Allah berikan kepada seorang hamba untuk membekali dirinya dengan ketaatan. Dan seorang hamba tidak akan menyadari betapa berharganya waktu yang ia miliki dan betapa agungnya nikmat waktu tersebut, kecuali jika ia telah benar-benar mengetahui terlebih dahulu hakikat waktu dan kedudukannya di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Dalam artikel kali ini, mari lebih mengenal hakikat waktu yang telah Allah berikan kepada kita ini, sehingga kita semua semakin bersemangat di dalam memanfaatkannya dan memaksimalkannya.</p>
<h2><span class="ez-toc-section" id="Hakikat_waktu_bagi_seorang_muslim" ez-toc-data-id="#Hakikat_waktu_bagi_seorang_muslim"></span>Hakikat waktu bagi seorang muslim<span class="ez-toc-section-end"></span></h2>
<p>Berbicara tentang hakikat “waktu”, maka sejatinya ia adalah umur manusia dan masa hidupnya. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, semuanya merupakan modal investasi yang Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>berikan kepada hamba-Nya di kehidupan dunia ini. Mengapa demikian? Karena tidaklah satu hari berlalu dari kehidupan kita, kecuali umur kita pun ikut berkurang.</p>
<p>Ibnul Qayyim<span> </span><em>rahimahullah</em><span> </span>pernah mengatakan tentang hakikat waktu ini,</p>
<p><em>“Waktu seseorang hakikatnya adalah umur kehidupannya. Dan itu akan menjadi modal serta kesempatan untuk meraih kehidupan abadinya dalam kebahagiaan abadi, atau menjadi sebab keberadaannya yang menyedihkan dalam siksa yang pedih.</em></p>
<div class="jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_ads  "></div>
<p><em>Dan waktu berlalu seperti awan. Jika waktunya tersebut dia habiskan untuk Allah dan di sisi Allah, maka itulah (hakikat) kehidupan yang sebenarnya. Dan jika untuk selain itu, maka tidak dihitung sebagai bagian dari hidupnya, sekalipun dia menjalani kehidupannya seperti hewan ternak (hanya makan, minum, dan tidur saja).</em></p>
<p><em>Dan jika dia habiskan waktunya untuk melakukan sesuatu yang sia-sia dan melalaikan serta dipenuhi dengan harapan-harapan palsu, dan cara terbaik yang bisa dia lakukan untuk melewatinya hanyalah dengan tidur dan bermalas-malasan saja, maka matinya orang tersebut lebih baik dari pada hidupnya.”</em><span> </span>(<em>Al-Jawab Al-Kafi</em>)</p>
<p>Ketahuilah, bahwa waktu kosong dan senggang yang sering kita rasakan, pada kenyataannya adalah kesempatan yang bisa saja diisi dengan kebaikan ataupun keburukan. Disadari ataupun tidak, tidak ada satu momen pun yang berlalu dalam hidup kita, kecuali pasti ada aktifitas dan kesibukan yang kita kerjakan. Maka dari itu, berusahalah untuk menjadikan waktu yang kita miliki sebagai tabungan dan investasi amal kebaikan yang akan menjadi bekal kita ketika bertemu dengan Allah<span> </span><em>Ta’ala</em>.</p>
<h2><span class="ez-toc-section" id="Waktu_Nikmat_yang_harus_dipertanggungjawabkan" ez-toc-data-id="#Waktu_Nikmat_yang_harus_dipertanggungjawabkan"></span>Waktu: Nikmat yang harus dipertanggungjawabkan<span class="ez-toc-section-end"></span></h2>
<p>Umur yang Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>berikan kepada kita, siang dan malam yang silih berganti datang kepada kita, nyawa yang terkandung dalam badan kita, semua itu sejatinya adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita. Sebagaimana firman Allah<span> </span><em>Ta’ala</em>,</p>
<p><span>وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ * وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا</span></p>
<p><em>“</em><em>Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan malam dan siang bagimu.</em><span> </span><em>Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.</em><em>”</em><span> </span>(QS. Ibrahim: 33-34)</p>
<p>Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>juga berfirman,</p>
<p><span>وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا</span></p>
<p><em>“</em><em>Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.</em><em>”<span> </span></em>(QS. Al-Furqan: 62)</p>
<p>Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em><span> </span>bersabda,</p>
<p><span>نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِيهِما كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ</span></p>
<p><em>“Dua kenikmatan</em><em><span> </span>yang<span> </span></em><em>kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.”</em><span> </span>(HR. Bukhari no. 6412)</p>
<p>Layaknya kenikmatan lainnya yang wajib disyukuri dan dipertanggungjawabkan oleh seorang hamba, nikmat waktu dan umur juga harus disyukuri dan akan Allah mintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em><span> </span>pernah bersabda,</p>
<p><span>لا تَزولُ قَدَمَا عبدٍ حتى يُسأَلَ عن عُمُرِه فيمَ أفناهُ؟ وعن عِلمِه فيمَ فَعَلَ فيه؟ وعن مالِهِ من أين اكتسَبَهُ؟ وفيم أنفَقَهُ؟ وعن جِسمِه فيمَ أبلاهُ</span></p>
<p><em>“Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sehingga dia ditanya tentang umurnya, kemana dihabiskan; tentang ilmunya, apakah yang telah dilakukan dengan</em><em>ny</em><em>a; tentang hartanya, dari mana<span> </span></em><em>ia peroleh</em><em><span> </span>dan kemana<span> </span></em><em>ia belanjakan;</em><em><span> </span>dan tentang badannya, untuk apa digunakan.”</em><span> </span>(HR.<span> </span><a href="https://muslim.or.id/21590-biografi-imam-at-tirmidzi.html" target="_blank" rel="noopener">Tirmidzi</a><span> </span>no. 2417, Ad-Darimi no. 537, dan Abu Ya’la no. 7434)</p>
<p><em><strong>Baca juga:<span> </span><a href="https://muslim.or.id/81893-untuk-apa-waktumu.html" target="_blank" rel="noopener">Untuk Apa Waktumu?</a></strong></em></p>
<h2><span class="ez-toc-section" id="Waktu_adalah_pahala_bagi_seorang_muslim" ez-toc-data-id="#Waktu_adalah_pahala_bagi_seorang_muslim"></span>Waktu adalah pahala bagi seorang muslim<span class="ez-toc-section-end"></span></h2>
<p>Dalam agama Islam, waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dan tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Tidaklah seorang hamba melewati sebuah hari, jam demi jam, menit demi menit, kecuali di dalamnya terdapat peluang untuk mendapatkan pahala dari Allah<span> </span><em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>telah mengatur waktu seorang muslim dengan sedemikian rupa. Dari ia bangun tidur di pagi hari hingga ia tidur kembali, ada ibadah dan amal saleh yang bisa diamalkan dan dipraktikkan setiap detiknya. Saat seorang hamba bangun tidur, lalu mengambil air wudu dan melaksanakan salat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p><span>رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا</span></p>
<p><em>“Dua<span> </span></em><em>rakaat</em><em><span> </span>fajar (</em><em>salat</em><em><span> </span>sunah qabliyah<span> </span></em><em>subuh</em><em>) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”<span> </span></em>(HR. Muslim no. 725)</p>
<p>Jika keutamaan salat sunah fajar saja demikian besarnya, lalu bagaimana dengan keutamaan salat Subuh itu sendiri?!</p>
<p>Saat matahari telah beranjak naik, seorang ayah keluar untuk mencari nafkah bagi keluarganya, maka ini juga bernilai pahala baginya apabila diniatkan ikhlas mengharap rida Allah<span> </span><em>Ta’ala</em>. Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em><span> </span>pernah bersabda,</p>
<p><span>دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ</span></p>
<p><em>“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)</em><em>.</em><em>”<span> </span></em>(HR. Muslim no. 995)</p>
<p>Di siang hari saat ia makan siang, lalu bersyukur kepada Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka ini juga bernilai pahala baginya. Rasulullah<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em><span> </span>pernah bersabda,</p>
<p><span>الطاعمُ الشَّاكرُ بمنزلةِ الصائمِ الصابرِ</span></p>
<p><em>“Orang makan yang bersyukur, kedudukannya seperti halnya orang berpuasa yang bersabar.”</em><span> </span>(HR. At-Tirmidzi no. 2486, Ibnu Majah no. 1764, dan Ahmad no. 7793)</p>
<p>Belum lagi salat lima waktu yang dikerjakannya, zikir-zikir yang dilantunkannya, perbuatan baik dan budi pekerti mulia yang menghiasi dirinya, semua itu jika dijalankan dengan niat menaati Allah dan Rasulnya, maka juga dinilai sebagai ibadah oleh Allah<span> </span><em>Taala.</em></p>
<h2><span class="ez-toc-section" id="Jangan_menunda-nunda_dalam_beramal" ez-toc-data-id="#Jangan_menunda-nunda_dalam_beramal"></span>Jangan menunda-nunda dalam beramal!<span class="ez-toc-section-end"></span></h2>
<p>Seorang mukmin harus memanfaatkan seluruh waktu dan umur yang dimilikinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah<span> </span><em>Ta’ala</em>. Tidak menunggu esok hari untuk melakukan sebuah ketaatan dan amal saleh. Allah<span> </span><em>Ta’ala</em><span> </span>juga memerintahkan kita untuk memaksimalkan waktu yang kita miliki dan tidak menunda-nunda dalam berbuat baik. Allah<span> </span><em>Ta’ala<span> </span></em>berfirman,</p>
<p><span>فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ</span></p>
<p><em>“Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”<span> </span></em> (QS. Al-Insyirah: 7)</p>
<p>Lihatlah juga bagaimana para pendahulu kita di dalam mengatur dan memaksimalkan waktu yang mereka miliki.<span> </span><a href="https://muslim.or.id/83998-abdullah-bin-masud.html" target="_blank" rel="noopener">Abdullah bin Mas’ud</a><span> </span><em>radhiyallahu ‘anhu,<span> </span></em>sahabat Nabi<span> </span><em>shallallahu ‘alaihi wasallam<span> </span></em>pernah mengatakan,</p>
<p><span>مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْئٍ نَدْمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ نَقَصَ فِيْهِ أَجَلِيْ وَلَمْ يَزِدْ فِيْهِ عَمَلِيْ</span></p>
<p><em>“Aku tidak pernah memiliki penyesalan yang demikian mendalam dibandingkan dengan penyesalanku akan berlalunya satu hari yang amalku tidak bertambah pada hari itu, padahal ajalku semakin berkurang.”</em><span> </span>(<em>Qimah Az-Zaman ‘Inda Al-Ulama,</em><span> </span>hal. 47)</p>
<p><a href="https://kisahmuslim.com/3588-biografi-ibnul-qayyim-al-jauziyah.html" target="_blank" rel="noopener">Ibnul Qayyim</a><span> </span><em>rahimahullah<span> </span></em>dalam kitabnya<span> </span><em>“Madariju As-Salikin”</em><span> </span>menyebutkan perkataan<span> </span><a href="https://muslim.or.id/61-imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html" target="_blank" rel="noopener">Imam Asy-Syafi’i</a><span> </span><em>rahimahullah</em>,</p>
<p><span>صحبتُ الصُّوفيّة، فما انتفعتُ منهم إلّا بكلمتين. سمعتهم يقولون:‌‌ الوقت سَيفٌ، فإن قطعتَه وإلّا قطَعَك. ونفسك إن لم تَشْغَلْها بالحقِّ شَغَلَتْك بالباطل</span></p>
<p><em>“Aku berteman dengan kaum sufi. Namun, aku tidak mendapatkan manfaat darinya, kecuali dua kata yang aku dengar darinya. Mereka mengatakan, ‘Waktu adalah pedang. Oleh karena itu, kamu harus menggunakannya dan memanfaatkannya. Jika tidak, maka ia yang justru akan memotong kamu dan dirimu. Dan jiwamu, jika kamu tidak sibukkan untuk kebaikan, maka ia justru yang akan disibukkan untuk kebatilan.”</em><span> </span>(<em>Madariju As-Salikin</em>, 3:546)</p>
<p><em>Wallahu A’lam bis-shawab.</em></p>
<p><em><strong>Baca juga:<span> </span><a href="https://muslim.or.id/47717-hukum-mencela-waktu-masa.html" target="_blank" rel="noopener">Hukum Mencela Waktu (Masa)</a></strong></em></p>

    <div class="xs_social_share_widget xs_share_url after_content 		main_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content">

		
        <ul>
			        </ul>
    </div> 
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://syabaabulquran.com/nikmat-waktu-dalam-pandangan-seorang-muslim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
